TRADISI LELUHUR DI TANAH SUBUR

NURUL FAOZI

Dalam kehidupan bermasyarakat, kerukunan mempunyai arti penting, yang salah satunya bertujuan untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan antarindividu dalam masyarakat. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan tersebut, masyarakat mempunyai cara tersendiri dalam menciptakan kerukunan. Salah satu sistem kemasyarakatan dalam masyarakat Jawa yang dikenal sebagai salah satu sarana untuk mempertahankan kerukunan agar masyarakatnya berada dalam kesatuan yang harmonis adalah gotong royong.

Salah satu kegiatan tolong menolong dalam masyarakat Jawa yang erat kaitannya dengan gotong royong adalah sambatan. Sambatan merupakan suatu sistem tolong menolong yang bersifat gotong royong dengan cara menggerakkan tenaga kerja secara masal yang berasal dari warga kampung itu sendiri untuk membantu keluarga yang sedang tertimpa musibah atau sedang mengerjakan sesuatu, seperti membangun dan merenovasi rumah.

Pada praktiknya ada beragam jenis sambatan yang berkembang di masyarakat. Seperti sambatan untuk mengolah lahan pertanian, ketika ada warga yang mengalami musibah, dan sambatan ketika membangun rumah atau biasa disebut sambatan gawe omah. Dari ketiga jenis sambatan tersebut, sambatan gawe omah merupakan jenis sambatan yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya yang berada di pedesaan sampai saat ini.

Salah satu desa yang sampai saat ini masyarakatnya masih melaksanakan tradisi sambatan gawe omah terdapat di desa tempat tinggal penulis, yaitu Desa Pandansari, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen. Sambatan gawe omah di Desa Pandansari merupakan kegiatan tolong menolong warga yang dilaksanakan oleh sejumlah masyarakat di sekitar orang yang sedang meminta bantuan untuk mengerjakan berbagai pekerjaan dalam proses pembangunan atau perbaikan rumah seorang warga yang sedang meminta bantuan.

Desa Pandansari terletak di wilayah dengan kontur tanah berbukit dan berbatu. Pekarangan dan lahan kosong dengan kondisi tanah terjal atau berbukit namun subur sering dijumpai di sekitar wilayah desa. Permukiman penduduk tergolong masih relatif sepi pada wilayah desa dengan kondisi tanah yang berbukit, namun sedikit padat di sepanjang jalan utama desa.

Kehidupan sosial budaya masyarakat Desa Pandansari secara umum mencerminkan kehidupan masyarakat Jawa di pedesaan. Beragam tradisi dan budaya khas masyarakat Jawa masih sering dilaksanakan oleh sebagian masyarakat desa, di antaranya sambatan, merti bumi, ruwat desa, sedekah bumi, dan lain-lain. Selain itu, rasa kebersamaan, kerukunan, dan kepedulian sosial masyarakat di desa ini juga tergolong masih tinggi. Masyarakat tidak segan untuk membantu tetangga atau masyarakat lain yang sedang terkena musibah. Bahkan, tanpa diminta bantuan, masyarakat akan inisiatif mendatangi tetangga atau warga yang dinilai sedang membutuhkan bantuan. Contoh lain misalnya dalam kegiatan gotong royong, partisipasi masyarakat di desa ini terbilang cukup besar, hampir seluruh masyarakat baik itu laki-laki atau perempuan ikut membantu bekerja di lapangan.

Selain sebagai suatu tradisi pada masyarakat Desa Pandansari, sambatan gawe omah juga merupakan salah satu contoh bentuk perwujudan gotong royong dengan jenis tolong menolong pada masyarakat. Perwujudan gotong royong pada tradisi ini dapat dilihat dari karakteristik kegiatannya yang sejalan dengan karakteristik gotong royong dan dapat dilihat juga dari peranannya mewujudkan kegiatan gotong royong yang sifatnya lebih luas yakni kerja bakti. Selain itu, tradisi ini juga dinilai mampu menjaga kerukunan, memupuk rasa kebersamaan, dan persatuan masyarakat karena dilakukan secara kolektif oleh masyarakat dan keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan ini atas dasar kesukarelaan.

Sambatan bukan hanya sekadar kegiatan tolong menolong antara satu atau dua orang saja, melainkan salah satu bentuk perwujudan gotong royong yang dapat berfungsi menjaga kerukunan, memupuk rasa kebersamaan, persatuan masyarakat, dan sekaligus menjadi upaya masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai tersebut. Oleh sebab itu, perlu adanya usaha pelestarian serta kajian mendalam terkait tradisi sambatan gawe omah sebagai bentuk kegiatan gotong royong pada masyarakat.

Banyak hal yang menyebabkan masyarakat di desa ini masih melaksanakan sambatan gawe omah. Di antaranya adalah masyarakat di desa ini umumnya masih memegang nilai-nilai luhur tradisi. Rasa kebersamaan dan kepedulian sosial yang dimiliki masyarakat juga dinilai masih cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari antusias warga dalam kegiatan gotong royong pembangunan fasilitas umum desa dan membantu tetangga yang sedang terkena musibah. Selain itu, kondisi ekonomi mayoritas masyarakat Desa Pandansari yang tergolong lemah juga menjadi salah satu penyebab masyarakat masih melaksanakan tradisi ini. Hal ini disebabkan karena untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai kebutuhan pokok masyarakat dibutuhkan dana yang relatif besar, tanpa meminta bantuan warga sekitar, masyarakat Desa Pandansari akan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokok tersebut.

Namun di sisi lain, meskipun masyarakat Desa Pandansari masih melaksanakan kegiatan sambatan gawe omah, intensitas pelaksanaannya pada era sekarang ini tidak seperti dahulu. Tidak semua warga yang akan membangun atau memperbaiki rumah mengadakan sambatan, hanya orang atau warga tertentu saja yang masih melaksanakan sambatan, seperti warga dari kalangan menengah ke bawah atau tokoh masyarakat setempat. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam kegiatan sambatan gawe omah di Desa Pandansari juga dinilai berkurang. Jika dahulu hampir seluruh masyarakat dalam satu lingkup RT atau RW mengikuti sambatan gawe omah yang diselenggarakan oleh seorang warga yang bertempat tinggal di wilayah tersebut, namun saat ini partisipan yang ikut dalam kegiatan ini biasanya hanya tetangga terdekat atau orang yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan si penyambat (orang yang meminta bantuan). Pelaksanaan sambatan gawe omah juga hanya dilaksanakan pada hari-hari tertentu atau waktu-waktu tertentu yang dirasa luang oleh masyarakat, itu pun tidak pada setiap keluarga atau warga yang sedang membangun rumah.

Banyak faktor yang menyebabkan tradisi sambatan gawe omah semakin luntur di Desa Pandansari. Salah satunya adalah perkembangan zaman dan pola kehidupan masyarakat desa yang telah beralih menuju pola kehidupan masyarakat perkotaan, dimana sikap individualitas semakin tinggi serta kondisi ekonomi masyarakat semakin meningkat. Selain itu, faktor perubahan sosial lainnya seperti kesibukan warga desa, gaya hidup masyarakat yang berubah, serta semakin banyaknya tenaga ahli dan alat modern yang lebih praktis juga dapat menjadi faktor penyebab semakin menurunnya intensitas pelaksanaan tradisi sambatan gawe omah di Desa Pandansari.

[*]Nurul Faozi, merupakan guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMA Negeri 1 Jakarta. Dia lahir dan besar di Kebumen, Jawa Tengah. Pendidikan sarjananya ditempuh Universitas Negeri Semarang.

Leave a Comment